Selasa, 14 November 2017

System Development life

Nama : Rico Septa Dwi A

Npm : 16116332

Dosen : Arbi Pramana

System Development Life Cycle

System Development Life Cycle ( SDLC) atau Daur hidup pengembangan system adalah suatu proses yang yang digunakan oleh analis sistem untuk mengembangkan suatu sistem informasi, mulai dari requirement (kebutuhan), study kelayakan, analisa & design system, Pengkodean dan Testing.

Berikut gambar dari model daur hidup pengembangan perangkat lunak :
Sebelumnya kita harus mengetahui tahapan-tahapan dari daur hidup pengembangan Software :

1.      Definisi Masalah ( Kebutuhan User)
Lebih dulu hal yang paling penting diperlukan untuk  pengembangan software apapun adalah sistem. Persyaratan sistem boleh bercycle didasarkan dengan menghasilkan perangkat lunak yang akan dikembangkan ke depan. Maka suatu analisa harus hati-hati tentang persyaratan sistem yang diperlukan untuk pengembangan dari produk itu. Setelah analisa dan disain dari tahap persyaratan sistem sistem yang diperlukan untuk pengembangan akan lengkap dan konsentrasi dapat l kedalam proses pengembangan software.

2.      Studi Kelayakan
Setelah membuat suatu pendefinisian masalah maka dilanjutkan pada langkah berikutnya yaitu untuk membuat analisa dari perangkat lunak persyaratan itu. Dengan kata lain studi kelayakan adalah jsering disebut juga analisa persyaratan perangkat lunak. Di tahap pengembangan ini harus membuat komunikasi dengan pelanggan dan analisa dengan cara dilakukan suatu penelitian. Dengan pembuatan analisa ini adalah mungkin membuat suatu laporan mengenai masalah. Dengan pembuatan suatu analisa terperinci yang disajikan dalam dokumen atau laporan sehingga dapat dilanjutkan ke dalam perencanaan proyek, perancangan , penjadwalan serta biaya yang diperkirakan untuk mengembangkan dan melaksanakan sistem itu.

3.      Analisis & Design sistem
Ini tahap yang penting dalam pengembangan sistem dimana melakukan perancangan sistem yang akan dikembangkan. Dengan kata lain database mendisain, perancangan arsitektur yang dipilih, spesifikasi fungsional disain, disain yang tingkat rendah dokumen, dokumen disain yang tingkat tinggi dan seterusnya berlangsung. Kita harus menyiapkan dokumen disain ini sebab tahap yang berikutnya yakni tahap pengembangan didasarkan pada dokumen disain ini. Jika suatu sumur yang tersusun dan dianalisa dokumen disain disiapkan maka akan mengurangi waktu untuk melakukan langkah-langkah berikutnya yakni pengembangan dan menguji tahap dari pengembangan software.

4.      Pengkodean
pada tahap ini akan secara langsung dipraktekan pada sistem yang sedang berlangsung. Desain Dokumen sudah disiapkan di nulai dari tahap pengkodean awal ditulis di teknologi programming yang dipilih. Setelah kode dikembangkan generasi dari kode juga berlangsung di tahap ini. Dengan kata lain kode diubah jadi executables di tahap ini setelah generasi kode.

5.      Testing
Suatu perangkat lunak akan dilakukan pengujian untuk menghasilkan produk yang berkwalitas. tahap ini akan mengetahui debugger atau kesalahan dalam sistem yang sedang dibangun. Pada tahap ini berbeda dan metoda uji didasarkan untuk koreksi dari kesalahan. Proses ini melanjut sampai sistem dibebaskan dari kesalahan.
Suatu perangkat lunak akan dilakukan pengujian untuk menghasilkan produk yang berkwalitas. tahap ini akan mengetahui debugger atau kesalahan dalam sistem yang sedang dibangun. Pada tahap ini berbeda dan metoda uji didasarkan untuk koreksi dari kesalahan. Proses ini melanjut sampai sistem dibebaskan dari kesalahan.
SDLC akan menghasilkan suatu sistem yang berkualitas sesuai requirement (kebutuhan) user dan dapat diselesaikan dalam waktu dan biaya yang telah diperkirakan secara efektif dalam infrastruktur tehologi informasi saat ini dan yang akan datang.
SDLC mudah dikembangkan dalam merespon berbagai kebutuhan pemakai (user) dan lebih murah pemeliharaan serta hemat biaya dalam pengembangan.
Sistem komputer sudah menjadi lebih kompleks dan sering juga merupakan arsitektur yang berorientasi memenuhi kebutuhan user dengan cara mengembangkan berbagai sistem yang konvensional (tradisional) agar berpotensi sehingga dapat menyajikan berbagai perangkat lunak yang berbeda.
SDLC merupakan alur kerja standart yang biasa dipakai oleh perusahaan-perusahaan vendor software dalam mengembangkan software aplikasi produksinya. SDLC ini tidak hanya penting untuk proses produksi software saja, namun terlebih juga sangat penting untuk proses maintenance software itu sendiri, karena tanpa pengarsipan data-data development suatu software, maka akan sangat menyulitkan perusahaan dalam maintenance software tersebut dikemudian hari.
Beberapa model SDLC yang dikembangkan :
o   Waterfall
o   Concurrent
o   Spiral
o   Build and fix
o   Rapid prototyping
o   Incremental
o   Formal
Dari ke tujuh model SDLC lebih menandakan suatu metodologi waterfall.

o   Waterfall
Waterwall Model, yang sering disebut juga classic life cycle, adalah model klasik yang bersifat sistematis, berurutan dalam membangun software (Proboyekti, 2006).
Model ini menyampaikan suatu pendekatan yang berurutan untuk pengembangan perangkat lunak. Pengembangan dimulai dari spesifikasi kebutuhan dan berlanjut dengan perencanaan, pemodelan, konstruksi, dan penyerahan.
Langkah-langkah dalam waterfall sebagi berikut :

a. Spesifikasi Kebutuhan user (Requirment User)
Mengumpulkan kebutuhan secara lengkap kemudian kemudian dianalisis dan didefinisikan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh program yang akan dibangun. Fase ini harus dikerjakan secara lengkap untuk bisa menghasilkan desain yang lengkap.

b. Software Design
Desain dikerjakan setelah kebutuhan selesai dikumpulkan secara lengkap.

c. Construction Coding (pengkodean)
Desain program diterjemahkan ke dalam kode-kode dengan menggunakan bahasa pemrograman yang sudah ditentukan. Program yang dibangun langsung diuji baik secara unit.

d. Integrasi (integration)
Penyatuan unit-unit program secara keseluruhan.

e. Testing
Setalah penyatuan program secara keseluruhan maka dilakukan pengujian (system testing).
Beberapa macam bentuk testing :
o   Data set testing
o   Unit testing
o   Sistem testing
o   Integrasi testing
o   Blackbox testing
o   Whitebox testing
o   Modul testing
o   Regresi testing
o   Otomasi testing

f. Implementasi
Mengoperasikan program dilingkungannya oleh pengguna/user

g. Pemeliharaan  (Maintenance)
Melakukan pemeliharaan, seperti penyesuaian atau perubahan karena adaptasi dengan situasi sebenarnya.
Model ini juga mencerminkan kepraktisan engineering karena ketika sudah berada diakhir fase jika terjadi kesalahan akan lebih mudah diperbaiki. Namun kelemahan metode ini adalah ketika suatu fase sudah terlewati dan ada perubahan kebutuhan sesuai keinginan pemakai/user terkadang model ini sulit untuk diakomodasi. Dampaknya akan menyebabkan kebingungan bagi tim pembuat. Sehingga keadaan ‘block state’ atau status terblok akan terjadi. Block state bisa terjadi ketika beberapa anggota tim harus menunggu anggota lain team ini untuk menyelesaikan tugas yang ada kaitannya. Akibatnya, waktu yang diperlukan untuk menunggu bisa melebihi waktu produktif yang diperlukan untuk mengerjakan tugasnya.
Secara umum masalah-masalah yang sering terjadi dalam model ini adalah :
Perubahan sulit dilakukan karena sifatnya yang kaku.
Karena sifat kakunya, model ini cocok ketika kebutuhan dikumpulkan secara lengkap sehingga perubahan bisa ditekan sekecil mungkin. Tapi pada kenyataannya jarang sekali konsumen/pengguna yang bisa memberikan kebutuhan secara lengkap, perubahan kebutuhan adalah sesuatu yang wajar terjadi.
Waterfall pada umumnya digunakan untuk rekayasa sistem yang besar dimana Proyek dikerjakan di beberapa tempat berbeda, dan dibagi menjadi beberapa bagian sub-Proyek

Concurrent
Model ini dapat direpresentasikan secara sistematis sebagai sederatan aktifitas teknis utama, pekerjaan dan state berikutnya.
Spiral
Spiral model memadukan prototyping model dengan waterfall model. Sistem dikembangkan dengan menggabungkan antara langkah-langkah pengembangan sistem yang menekankan pada pengulangan-pengulangan dengan cara pengembangan sistem yang menekankan pada sistematika dan kontrol.
Spiral model adalah model proses yang dipicu oleh resiko, dimana digunakan untuk memandu banyak stakeholder bersama-sama membangun perangkat lunak sistem.
Spiral model merupakan suatu pendekatan realistis untuk pengembangan sistem skala besar. Hal ini karena sistem berkembang sebagaimana proses berkembang, pengembang dan pengguna memiliki pemahaman yang lebih baik dan reaksi terhadap resiko pada level evolusioner. Pengguna dan pembangung bisa memahami dengan baik software yang dibangun karena setiap kemajuan yang dicapai diamati dengan baik.
Langkah-langkah pada model spiral :

a. Menentukan tujuan
Menentukan tujuan dari fase yang ditentukan. Batasan-batasan pada proses dan produk sudah diketahui. Perencanaan sudah disiapkan. Resiko dari Proyek sudah diketahui. Alternatif strategi sudah disiapkan berdasarkan resiko-resiko yang diketahui, dan sudah direncanakan.

b. Menilai resiko dan pengurangannya
Setiap resiko dianalisis secara detil pada sektor ini. Langkah-langkah penanganan dilakukan, misalnya membuat prototype untuk mengetahui ketidakcocokan kebutuhan.

c. Pengembangan dan validasi
Setelah evaluasi resiko, maka model pengembangan sistem dipilih. Misalnya jika resiko user interface dominan, maka membuat prototype User Interface. Jika bagian keamanan yang bermasalah, maka menggunakan model formal dengan perhitungan matematis, dan jika masalahnya adalah integrasi sistem model waterfall lebih cocok.

d. Perencanaan
Proyek dievaluasi atau ditinjau-ulang dan diputuskan untuk terus ke fase loop selanjutnya atau tidak. Jika melanjutkan ke fase berikutnya rencana untuk loop selanjutnya.

Build And Fix
Model Build dan Fix yang juga diketahui sebagai pembangunan Ad-Hoc adalah struktur yang paling lemah dari metodologi putaran hidup pembangunan sistem ( System Development Life Cycle ). Model ini sangat mengandalkan keahlian individu dari anggota tim, kebanyakan tugas-tugasnya dikerjakan oleh satu orang. Dengan metode Build dan Fix, pembangun /developers menulis beberapa kode, kemudian berlanjut untuk memodifikasinya sampai kode tersebut dapat bekerja dan konsumen puas. Dengan perencanaan yang kurang, strategi ini dapat beresiko, dan jika dijalankan seenaknya dapat menyusahkan si pembangun dalam melakukan maintenance / pemeliharaan terhadap softwaretersebut.
Model ini tidak cocok digunakan pada saat ini karena alasan sebagai berikut :
o   Software dibangun untuk orang atau instansi yang tidak memiliki keahlian komputer.
o   Kebutuhan tahan uji dan kenyamanan yang lebih besar.
o   Aktifitas group atau team work yang sangat perlu dilakukan.
Selain itu di model paling sederhana dalam pembangunan software ini, produk dibangun dengan kebutuhan yang minimal dan umumnya tidak ada spesifikasi ataupun usaha di dalam desainnya dan tes terhadap softwarepun sering kali dilupakan. Model ini adalah representasi dari segala hal yang terjadi di banyak Proyel pembangunan software. Walaupun begitu model ini memiliki keuntungannya sendiri di dalam beberapa situasi

RAPID PROTOTYPING
Rapid Prototyping mengacu pada pembuatan model yang pada akhirnya lebih banyak ditolak daripada diterima oleh client sebagai bagian dari produk akhir. Setelah apa yang dibutuhkan terkumpul maka dibuatlah suatu model simpel yang dapat bekerja sehingga bisa menunjukkan kepada pemakai/user apa yang ada dalam model tersebut merupakan gambaran singkat terhadap produk akhir yang akan dihasilkan nantinya.
Jika pemakai/user cepat memberikan masukan pada apa yang mereka butuhkan maka dapat dilakukan perubahan dalam pengembangannya lebih cepat.

Incremental
Incremental model memadukan elemen-elemen waterfall model yang diterapkan dalam suatu cara yang berulang-ulang. Ketika incremental model digunakan, maka produk pertama adalah selalu core product (produk inti). Ini adalah kebutuhan dasar yang harus diselesaikan, dan fasilitas-fasilitas pendukung belum diselesaikan. Produk inti tersebut bukanlah berupa prototype, melainkan produk yang sudah bisa berfungsi dengan spesifikasi dasar. Produk inti digunakan oleh customer atau menjalani evaluasi terinci. Sebagai hasil dari penggunaan dan atau evaluasi adalah pembuatan rencana untuk produk tambahan berikutnya. Perencanaan mencakup modifikasi produk inti menjadi lebih baik memenuhi kebutuhan customer dan memberikan fasilitas dan fungsi tambahan. Proses ini diulang-ulang hingga produk yang lengkap dihasilkan.
Pengembangan secara incremental sangat berguna ketika staf yang dimiliki tidak mencukupi untuk implementasi menyeluruh dari batas waktu yang tersedia untuk menyelesaikan Proyek. Produk awal dapat diimplementasikan dengan jumlah orang yang lebih sedikit. Jika produk inti diterima dan disetujui, staf tambahan (jika diperlukan) dapat ditambahkan untuk mengimplementasikan produk tambahan berikutnya.

Formal
Metoda Formal ini digunakan di bidang software. Bahkan, sebetulnya Metoda Formal lebih awal digunakan di bidang software. Akan tetapi tampaknya hasil yang positif lebih banyak terlihat di bidang hardware, hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal :
o   Hardware memiliki kompleksitas lebih kecil dibandingkan software
o   Disainer hardware lebih terbiasa menggunakan paradigma reuse, yaitu menggunakan komponen dasar yang sudah standar yang bisa diverifikasi secara individual (misalnya, jarang disainer membuat AND gate sendiri, biasanya tinggal menggunakan standard cell, bahkan untuk skala besar menggunakan IP core), sementar software designer belum dipaksa menggunakan metoda reuse (berapa banyak metoda untuk melakukan sort Setiap disainer dapat membuat metoda sendiri-sendiri).
Sebagian besar  perusahaan menggunakan metodologi proses pengembangan software. Diantaranya perusahaan industri dalam proses industrinya memerlukan otomasi guna mempercepat pekerjaan dan menghemat biaya.
Kendala dalam pengembangan software adalah :
o   Dana
o   Waktu
o   Struktur organisasi
Suatu Organisasi boleh menciptakan suatu Proses Software/Perangkat Lunak yang rancang-bangun  guna peningkatan proses. Terdiri atas praktisi yang sudah memiliki ketrampilan dalam organisasi tersebut.
Sebagian besar Software dibuat secara custom-built, serta tidak dapat
dirakit dari komponen yang sudah ada.
Karakteristik dari produk software :
1. Maintainanbility
2. Dependability
3. Efficiency
4. Usability
Proses (produksi) software, yaitu:
o   Spesifikasi software
o   Pengembangan software
o   Validasi (pengetesan dan pengujian).
o   Evolusi, pengembangan lanjutan IEEE telah mengembangkan definisi yang lebih komprehensif
Software engineering : aplikasi dari sebuah pendekatan kuantifiabel, disiplin, dan sistematis kepada pengembangan, operasi, dan pemeliharaan software.
software telah berkembang dari sebuah alat analisis dan pemecahan masalah yang terspesialisasi di dalam industri itu sendiri. Tetapi budaya dan sejarah pemrograman sebelumnya telah menciptakan serangkain masalah yang sekarang muncul. Software telah menjadi faktor pembatas dalam evolusi sistem berbasis komputer. Software dirancang dari program-program, data, dan dokumen. Masing – masing dari item tersebut terdiri dari sebuah konfigurasi yang diciptakan sebagai bagian dari proses pengembangan software. Tujuan software engineering adalah menyediakan sebuah kerangka kerja guna membangun software dengan kualitas yang lebihtinggi.
Software engineering adalah sebuah disiplin ilmu yang mengintergrasikan
proses, metode, dan alat – alat bantu bagi perkembangan proses perangkat lunak komputer.
Model – model proses untuk software engineering seperti model sekuensial linier, model prototipe, model RAD, model inkremental, model spiral, model asembli komponen, model pengembangan kongkuren dan model metode formal.

Model sekuensial linier
model sekuensial linier melingkupi aktivitas – aktivitas sebagai berikut :

1. Rekayasa dan pemodelan sistem/informasi
Pandangan sistem ini penting ketika software harus berhubungan dengan elemen-elemen yang lain seperti software, manusia, dan database. Rekayasa dan anasisis system menyangkut pengumpulan kebutuhan pada tingkat sistem dengan sejumlah kecil analisis serta disain tingkat puncak. Rekayasa informasi mancakup juga pengumpulan kebutuhan pada tingkat bisnis strategis dan tingkat area bisnis.
v  Analisis kebutuhan Software
Proses pengumpulan kebutuhan diintensifkan dan difokuskan, khususnya pada software. Untuk memahami sifat program yang dibangun, analis harus memahami domain informasi, tingkah laku, unjuk kerja, dan interface yang diperlukan. Kebutuhan baik untuk sistem maupun software didokumentasikan dan dilihat lagi dengan pelanggan.
v  Desain
Desain software sebenarnya adalah proses multi langkah yang berfokus pada empat atribut sebuah program yang berbeda, struktur data, arsitektur software, representasi interface, dan detail (algoritma) prosedural.
v  Generasi Kode
Desain harus diterjemahkan kedalam bentuk mesin yang bisa dibaca. Langkah pembuatan kode melakukan tugas ini. Jika desain dilakukan dengan cara yang lengkap, pembuatan kode dapat diselesaikan secara mekanis.
v  Pengujian
Sekali program dibuat, penujian Software akan mengalami perubahan setelah disampaikan kepada pelanggan (perkecualian yang mungkin adalah software yang dilekatkan). Perubahan akan terjadi karena kesalahan – kesalahan ditentukan, karena software harus disesuaikan untuk mengakomodasi perubahan – perubahan di dalam lingkungan eksternalnya (contohnya perubahan yang dibutuhkan sebagai akibat dari perangkat peripheral atau sistem operasi yang baru), atau karena pelanggan membutuhkan perkembangan fungsional atau unjuk kerja.

Pemeliharaan
Software mengaplikasikan lagi setiap fase program sebelumnya dan tidak membuat yang baru lagi.gujian program dimulai. Proses pengujian berfokus pada logika internal software, memastikan bahwa semua pernyataan sudah diuji, dan pada eksternal fungsional, yaitu mengarahkan pengujian untuk menemukan kesalahan – kesalahan dan memastikan bahwa input yang dibatasi akan memberikan hasil aktual yang sesuai dengan hasil yang dibutuhkan.

Model prototype
Prototyping paradigma dimulai dengan pengumpulan kebutuhan. Pengembang dan pelanggan bertemu dan mendefinisikan obyektif keseluruhan dari software, mengidentifikasi segala kebutuhan yang diketahui, dan area garis besar diman definisi lebih jauh merupakan keharusan kemudian dilakukan “perancangan kilat”. Perancangan kilat berfokus pada penyajian dari aspek – aspek software tersebut yang akan nampak bagi pelanggan atau pemakai (contohnya pendekatan input dan format output). Perancangan kilat membawa kepada konstruksi sebuah prototipe. Prototipe tersebut dievaluasi oleh pelanggan/pemakai dan dipakai untuk menyaring kebutuhan pengembangan software. Iterasi terjadi pada saat prototipe disetel untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, dan pada saat yang sama memungkinkan pengembang untuk secara lebih baik memahami apa yang harus dilakukannya.
Penjelasan mengenai model RAD, model inkremental, model spiral, model asembli komponen, model pengembangan kongkuren dan model metode formal sudah diterangkan sebelumnya.

Build And Fix
Model Build dan Fix yang juga diketahui sebagai pembangunan Ad-Hoc adalah struktur yang paling lemah dari metodologi putaran hidup pembangunan sistem ( System Development Life Cycle ). Model ini sangat mengandalkan keahlian individu dari anggota tim, kebanyakan tugas-tugasnya dikerjakan oleh satu orang. Dengan metode Build dan Fix, pembangun /developers menulis beberapa kode, kemudian berlanjut untuk memodifikasinya sampai kode tersebut dapat bekerja dan konsumen puas. Dengan perencanaan yang kurang, strategi ini dapat beresiko, dan jika dijalankan seenaknya dapat menyusahkan si pembangun dalam melakukan maintenance / pemeliharaan terhadap softwaretersebut.
Model ini tidak cocok digunakan pada saat ini karena alasan sebagai berikut :
o   Software dibangun untuk orang atau instansi yang tidak memiliki keahlian komputer.
o   Kebutuhan tahan uji dan kenyamanan yang lebih besar.
o   Aktifitas group atau team work yang sangat perlu dilakukan.
Selain itu di model paling sederhana dalam pembangunan software ini, produk dibangun dengan kebutuhan yang minimal dan umumnya tidak ada spesifikasi ataupun usaha di dalam desainnya dan tes terhadap softwarepun sering kali dilupakan. Model ini adalah representasi dari segala hal yang terjadi di banyak Proyel pembangunan software. Walaupun begitu model ini memiliki keuntungannya sendiri di dalam beberapa situasi.


Sumber

http://refky27.blogspot.co.id

Rabu, 11 Oktober 2017

PENGERTIAN INOVASI SISTEM INFORMASI DAN TEKNOLOGI MODERN

NAMA    : Rico Septa Dwi A
NPM       :16116332
KELAS    : 2Ka 29

PENGERTIAN INOVASI SISTEM INFORMASI & TEKNOLOGI INFORMASI MODERN


Inovasi adalah suatu penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya. orang atau wirausahawan yang slalu berinovasi, maka ia sapat dikatakan sebagai seorang wirausahwan yang inovatif. Seseorang yang inovatif akan selalu berupaya melakukan perbaikan, menyajikan sesuatu yang baru/unik yang berbeda dengan yang sudah ada.
Pengertian Inovasi Menurut Para Ahli :
  • Kuniyoshi Urabe Menurut Kuniyoshi Urabe, inovasi merupakan setiap kegiatan yang tidak bisa dihasilkan dengan satu kali pukul, melainkan suatu proses yang panjang dan kumulatif, meliputi banyak proses pengambilan keputusan, mulai dari penemuan gagasan hingga ke implementasian nya di pasar.
  • Van de Ven, Andrew H. Menurut Van de Ven, Andrew H., pengertian inovasi adalah pengembangan dan implementasi gagasan-gagasan baru oleh orang dalam jangka waktu tertentu yang dilakukan dengan berbagai aktivitas transaksi di dalam tatanan organisasi tertentu.
  • Everett M. Rogers Menurut Everett M. Rogers, inovasi merupakan sebuah ide, gagasan, ojek, dan praktik yang dilandasi dan diterima sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau pun kelompok tertentu untuk diaplikasikan atau pun diadopsi.
  • UU No. 19 Tahun 2002 Menurut UU No. 19 Tahun 2002, pengertian inovasi adalah kegiatan penelitian, pengembangan, dan atau pun perekayasaan yang dilakukan dengan tujuan melakukan pengembangan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau pun cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah ada ke dalam produk atau pun proses produksinya.

Teknologi Informasi (TI), atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Information technology (IT) adalah istilah umum untuk teknologi apa pun yang membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan dan/atau menyebarkan informasi. TI menyatukan komputasi dan komunikasi berkecepatan tinggi untuk data, suara, dan video. Contoh dari Teknologi Informasi bukan hanya berupa komputer pribadi, tetapi juga telepon, TV, peralatan rumah tangga elektronik, dan peranti genggam modern (misalnya ponsel).

MANFAAT INOVASI SISTEM INFORMASI & TEKNOLOGI INFORMASI MODERN

  • Manfaat Inovasi Sistem Informasi bagi Perusahaan, untuk sebuah perusahaan, teknologi sangat dibutuh kan apalagi dalam pemrosesan data. Di abad 21 ini sudah 90% perusahaan besar ataupun kecil sudah memasukan teknologi computer dan internet pada setiap kegiatan di perusahaan tersebut, contohnya sebagai transaksi, promo, perhitungan gaji, menemukan partner atau mitra kerja, dll. Setelah masuknya bidang teknologi ke sebuah perusahaan sekarang kita sudah mudah untuk melakukan transaksi jual beli baik itu secara komersil maupun individu.
  • Manfaat Inovasi Sistem Informasi pada SIM (Sistem Informasi Manajemen), dalam SIM itu sendiri banyak yang diuntung kan dari adanya Inovasi Sistem Informasi tersebut. Seperti hal nya dalam meningkatnya kualitas informasi saat di sampaikan, Lebih terjamin kemanannya karena sudah adanya pengecekan kemanan setiap minggu atau bulan ini biasa kita sebut sebagai maintenance, Informasi yang disampaikan bisa dijamin kebenarannya karena informasi yang di sebar luaskan sudah melewati masa pengecekan, bisa meningkatkan pengambilan keputusan atas dasar informasi yang sudah didapat secara ke akuratan kebenarannya, serta lebih efisien bagi setiap pengguna yang akan mencobanya sendiri.

Teknologi Informasi memang sangat membantu untuk memecahkan banyak permasalahan yang sering dihadapi oleh seseorang, terutama yang berkaitan dengan faktor kekurangan seseorang. Seiring dengan majunya teknologi informasi banyak berperan dalam bidang-bidang tertentu.
  • Manfaat Teknologi Informasi Modern di bidang Pendidikan, dalam bidang pendidikan perkembangan teknologi informasi telah membuat hal yang susah dan membosankan menjadi mudah dan menyenangkan. Sebagai contoh kita melihat di Perancis proyek “Flexible Learning”.
  • Manfaat Teknologi Informasi Modern di bidang Pemerintahan, Dalam bidang pemerintahan pada penggunaan teknologi informasi oleh pemerintahan, seperti menggunakan internet, yang pastinya digunakan untuk menghubungkan keperluan penduduk, bisnis, dan kegiatan lainnya. Bisa merupakan suatu proses transaksi bisnis antara pihak yang lain dan pemerintah dengan menggunakan jaringan internet, lebih umum lagi dikenal sebagai world wide web. Pada intinya pemerintah adalah penggunaan teknologi informasi yang sangat penting untuk dapat memantau situasi yang sedang terjadi di masyarakat.
  • Manfaat Teknologi Informasi Modern di bidang Keuangan, Dalam bidang keuangan teknologi informasi merupakan hal yang sangat penting dalam proses transaksi. Saat ini telah banyak khususnya di kota-kota besar yang tidak lagi menggunakan uang untuk pembayarannya, tetapi telah memanfaatkan teknologi itu sendiri.

CONTOH INOVASI SISTEM INFORMASI & TEKNOLOGI INFORMASI MODERN.

  • Contoh Inovasi Sistem Informasi dan Teknologi Informasi Modern di bidang Keuangan, seorang nasabah dapat menarik uang dimanapun dia berada selama disana masih ada layanan ATM dari bank tersebut, atau seseorang dapat tanpa perlu bertemu dengan orang yang di tuju dengan mentransfer uang tersebut ke rekening yang lain hanya dalam hitungan menit saja, semua transaksi dapat dilakukan dengan mudah dan cepat.
  • Contoh Inovasi Sistem Informasi dan Teknologi Informasi Modern di bidang Pendidikan. Salah satu aplikasi e-learning yang berbasis open source adalah Moodle. Moodle adalah paket software yang diproduksi untuk kegiatan belajar berbasis internet dan website. Moodle pertama kali dikembangkan oleh Martin Dogiamas yang mempertahankan moodle sebagai paket software e-learning yang free (gratis) dan open source (terbuka source programnya). Moodle terus mengembangkan rancangan sistem dan desain user interface setiap minggunya (up to date). Oleh karena itu Moodle tersedia dan dapat digunakan secara bebas sebagai produk open source. Sistem e-learning berbasis open source (moodle) yang digunakan diharapkan dapat meningkatkan efsiensi dan efektivitas kinerja pengajar dan pemahaman pembelajar terhadap materi pembelajaran. Istilah moodle singkatan dari Modular Object Oriented Dynamic Learning Enviroment yang berarti tempat belajar dinamis dengan menggunakan model berorientasi objek atau merupakan paket lingkungan pendidikan berbasis web yang dinamis dan dikembangkan dengan konsep berorientasi objek.
reff: https://naufalakmalfauzi.wordpress.com/2016/10/10/inovasi-sistem-informasi-teknologi-informasi-modern/

SEJARAH PSS SLEMAN

Nama     : Rico Septa Dwi A
NPM      : 16116332
Kelas      : 2 ka29



SEJARAH PSS SLEMAN

Perserikatan Sepak bola Sleman (biasa disingkat: PSS) merupakan sebuah tim sepak bola yang berbasis di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Tim yang didirikan pada 20 Mei 1976 ini merupakan salah satu tim sepak bola yang disegani di Indonesia dan memiliki julukan sebagai tim Super Elang Jawa atau Super Elja. Tim ini juga sering disebut dengan julukan Laskar Sembada. Mereka bermain di Divisi Utama dalam sebuah kompetisi sepak bola Indonesia, Liga Indonesia. Prestasi tertingginya dalam kompetisi kasta tertinggi Liga Indonesia adalah dua tahun berturut-turut menempati empat besar pada Divisi Utama Liga Indonesia 2003 dan Divisi Utama Liga Indonesia 2004. Stadion utama mereka adalah Stadion Maguwoharjo, dan menggunakan Stadion Tridadisebagai stadion kedua. PSS juga memiliki supporter fanatik yakni Slemania dan Brigata Curva 
Sud (BCS x PSS).


Sejarah

Perserikatan Sepak bola Sleman (PSS) lahir pada Kamis Kliwon tanggal 20 Mei 1976 semasa periode kepemimpinan Bupati Drs. KRT. Suyoto Projosuyoto. Lima tokoh yang membidani kelahiran PSS adalah H. Suryo Saryono, Sugiarto SY, Subardi, Sudarsono KH, dan Hartadi. PSS didirikan pada awalnya hanya mereka senang dengan sepak bola. Dengan sepak bola mereka yakin akan menambah teman, meningkatkan persaudaraan dan tentu saja dengan sendirinya meningkatkan persatuan dan kesatuan masyarakat Kabupaten Sleman. Lahirnya PSS dilatarbelakangi bahwa pada waktu itu di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) baru ada dua perserikatan yaitu PSIM Yogyakarta dan Persiba Bantul. Waktu berdirinya PSS hampir bersamaan dengan saat berdirinya Persikup Kulon Progo dan Persig Gunungkidul. Saat itu, selain di Kota Yogyakarta, potensi sepak bola di empat daerah kabupaten tidak terpantau dan kurang terkelola dengan baik. Padahal beberapa daerah di Kabupaten Sleman, seperti Prambanan, Sleman dan Kalasan, Sleman sejak dulu sudah memiliki tim sepak bola yang tangguh, yang ditandai dengan hadirnya beberapa tim luar daerah yang mengadakan pertandingan uji coba dengan tim di kawasan tersebut. Meskipun klub-klub sepak bola di Kabupaten Sleman telah ada dan tumbuh, tetapi belum terorganisasi dengan baik karena di Kabupaten Sleman belum ada perserikatan. Hal ini berdampak terhadap kelancaran klub-klub sepak bola di Kabupaten Sleman dalam mengadakan kompetisi sehingga banyak pemain dari Kabupaten Sleman yang bergabung ke klub-klub sepak bola di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.
Keinginan masyarakat yang kuat di Kabupaten Sleman untuk memiliki perserikatan klub sepak bola akhirnya mulai terwujud dengan adanya informasi yang disampaikan oleh Komda PSSI DIY pada waktu itu (Prof. Dr. Sardjono) yang menyatakan bahwa syarat untuk membentuk perserikatan sepak bola minimal harus ada lima klub. Di Kabupaten Sleman pada waktu itu sudah ada lima klub yaitu PS Mlati, AMS Seyegan, PSK Kalasan, Godean Putra dan PSKS Sleman. Akhirnya, tepat pada tanggal 20 Mei 1976, PSS dibentuk dengan Ketua Umum Gafar Anwar (seorang polisi).
Setelah Gafar Anwar meninggal, posisi Ketua Umum PSS digantikan Oleh Drs. Suyadi sampai dengan 1983. Periode 1983-1985, PSS dipimpin oleh Drs. R. Subardi Pd (Drs. KRT. Sosro Hadiningrat). Periode 1986-1989, PSS dipimpin oleh Letkol Infanteri Suhartono. Karena ada perubahan masa bakti/periodisasi dalam memimpin klub perserikatan yang dilakukan oleh PSSI menjadi empat tahunan maka di tengah perjalanan periode Letkol Infanteri Suhartono tepatnya tahun 1987, Letkol Infanteri Suhartono masih dipilih lagi sebagai Ketua Umum PSS untuk masa jabatan 1987-1991. Kemudian pada periode 1991-1995, PSS dipimpin oleh H. RM. Tirun Marwito, S.H. Mulai periode 1996-2000, PSS dipimpin langsung oleh bupati, pada waktu itu Drs. H. Arifin Ilyas. Selanjutnya tahun 2000-2004, PSS dipimpin oleh Bupati Drs. H. Ibnu Subiyanto, Akt. Jabatan Drs. H. Ibnu Subiyanto, Akt dalam memimpin PSS yang berarkhir pada tahun 2004 diperpanjang mulai 2005, banyak nama yang membesarkan PSS, di antaranya Sudarsono KH, H. Sukidi Cakrasuwignya, Suparlan, H. Subardi, S.H., Hendricus Mulyono, Drs. H. Arifin Ilyas, Drs. H. Ibnu Subiyanto, Akt dll.
Saat ini PSS memutuskan menggunakan nama Persatuan Sepak bola Sleman dalam profil timnya berkaitan dengan pajak sponsorship. Nama persatuan hanya dipakai dalam media massa dan komunikasi bisnis saja. Sedangkan nama perserikatan tetap dalam sejarah pendirian. Nama perserikatan tidak diperbolehkan dalam segmen bisnis modern dalam penerimaan sponsorship.
Untuk memenuhi aspek legal dalam mengikuti kompetisi profesional, maka mulai musim 2011/2012 dibentuklah PT. Putra Sleman Sembada (PT. PSS). PT. PSS didirikan dengan akta notaris no. 78 tanggal 26 April 2012 untuk menaungi PSS. Struktur PT. PSS terdiri dari satu Komisaris Utama, tiga Komisaris, satu Direktur Utama/CEO dan empat Direktur yakni Direktur Teknik, Direktur Pemasaran, Direktur Keuangan, dan Direktur Umum. Komisaris Utama dipegang oleh Bambang Sukmonohadi. Komisaris dipegang oleh Mujiman, H. Giyanto, H. Sudibyo. Jajaran direksi dipegang masing-masing Direktur Utama H. Suparjiono, Direktur Teknik Yoni Arseto, Direktur Pemasaran Soekeno, Direktur Keuangan Djaka Waluya, S.E., Direktur Umum Indriyanto Eko Saputro.
PSS beraksi pertama kalinya dalam sebuah turnamen yang digelar di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Turnamen kecil dengan peserta dari empat kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang digunakan sebagai ajang seleksi tim Pra PON DIY pada tahun 1976 ini merupakan debut resmi PSS. Dari turnamen ini, akan diambil beberapa pemain yang kemudian akan dijadikan pemain tambahan bagi tim PSIMyang menjadi kekuatan tim inti Pra PON DIY saat itu. PSS berhasil mengalahkan Persig Gunung Kidul 1-0 pada tanggal 10 Agustus 1976, sebelum akhirnya kalah dari Persiba Bantul 0-2 dalam pertandingan final.
Tiga tahun pertama PSS baru mengadakan kegiatan yang lebih bersifat intern, misalnya mengadakan kompetisi antar klub anggota PSS. Kompetisi ini sebagai media publikasi PSS dan dalam rangka memasyarakatkan olah raga sepak bola di wilayah Kabupaten Sleman. Lambat laun jumlah klub yang menjadi anggota PSS semakin banyak. Tahun demi tahun berikutnya dilalui dengan peningkatan-peningkatan, dengan mengikuti pertandingan di tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tiga tahun setelah PSS dibentuk, PSS memulai perjuangan dalam kompetisi Divisi II PSSI pada tahun 1979 dengan lawan tim-tim sepak bola yaitu Persiba Bantul, Persig Gunung Kidul, dan Persikup Kulonprogo untuk tim yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang pada waktu itu memiliki lima perserikatan. Dalam babak penyisihan tersebut PSS menjadi juara. Setelah lolos babak penyisihan PSS langsung masuk divisi IIA bersama dengan tim perserikatan-perserikatan sepak bola dari Provinsi Jawa Tengah yang lolos babak penyisihan seperti PSIR Rembang, Persijap Jepara, dan Persibat Batang(menjadi satu rayon) sehingga perserikatan manapun yang lolos di DIY harus bergabung dulu dengan Provinsi Jawa Tengah melakukan kompetisi dengan hasil PSS selalu gagal maju ke babak ketiga atau babak tingkat nasional.
Pelan namun pasti, PSS mencoba menapak kompetisi nasional melalui pemain-pemain yang dibina di kompetisi internal secara kontinyu. PSS, sadar atau tidak, sebenarnya telah membangun sebuah kultur sepak bolanya melalui kompetisi lokal yang rutin, disiplin dan bergairah. Berdiri tahun 1976, PSS termasuk perserikatan yang muda jika dibandingkan dengan PSIM Yogyakarta, Persis Solo, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, PSMS Medan, Persija dan lainnya.
Namun, meski muda, PSS mampu membangun kompetisi sepak bola secara disiplin, rutin dan ketat sejak pertengahan tahun 1980-an. Kompetisi itu tak bernah terhenti sampai saat ini. Sebuah konsistensi yang luar biasa. Apalagi, kompetisi yang dijalankan melibatkan semua divisi, baik Divisi Utama, Divisi I maupun Divisi II. Bahkan, pernah PSS juga menggelar kompetisi Divisi IIA.
Maka, tak pelak lagi, PSS kemudian memiliki sebuah kultur sepak bola yang baik. Minimal, di Kabupaten Sleman telah terbangun sebuah tradisi sepak bola yang meluas dan mengakar dari segala kelas. Pada gilirannya, tak menutup kemungkinan jika suatu saat PSS mampu menyuguhkan permainan fenomenal dan khas.
Ini prestasi luar biasa bagi sebuah kota kecil yang berada di bawah bayang-bayang Yogyakarta ini. Di Kabupaten Sleman tak ada sponsor besar, atau perusahaan-perusahaan raksasa yang bisa dimanfaatkan donasinya untuk mengembangkan sepak bola. Kompetisi itu lebih berawal dari kecintaan sepak bola, tekad, hasrat, motivasi dan kemauan yang tinggi. Semangat seluruh unsur yaitu penonton, pemain, pelatih, pengurus dan pembina terlihat begitu tinggi.
PSS pernah dipuji oleh ketua umum PSSI, Kardono sebagai tim perserikatan yang memiliki kompetisi internal terbaik di Indonesia. Tak kurang 60 tim amatir secara rutin bertarung dalam tiga divisi dalam kompetisi PSS. Klub-klub asal Kabupaten Sleman pun merajai berbagai turnamen tarkam, dan PSS tak pernah kekurangan stok pemain.
Sejak tahun 1987, PSS mulai menargetkan agar dapat berlaga ke pentas sepak bola nasional dengan promosi ke Divisi Satu. Namun seringkali usaha PSS kandas saat mengikuti kompetisi penyisihan Divisi IIA zona Jateng DIY. Persijap Jepara, PSIR Rembang, dan Persiku Kudus, adalah lawan-lawan yang secara bergantian mengganjal langkah PSS agar dapat lolos ke Divisi II zona nasional. Keberhasilan PSIR Rembang dan Persiku Kudus promosi ke Divisi Satu, dan bahkan ke Divisi Utama Liga Indonesia saat Liga Indonesia mulai bergulir memuluskan langkah PSS untuk merajai Divisi IIA Jateng DIY bersama Persijap Jepara, dan berlaga di pentas Divisi II Nasional.
Namun, usaha PSS untuk promosi ke Divisi Satu Liga Indonesia pada Liga Indonesia 1994/1995 gagal di babak penyisihan sekalipun mereka berlaga di kandang sendiri. Pada waktu itu, PSS selalu mengikuti kompetisi Divisi II PSSI sejak tahun 1979 sampai kemudian baru Liga Indonesia tahun 1995/1996, PSS meraih juara kompetisi Divisi Dua Liga Indonesia untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah bertanding dengan tim-tim dari yang lolos penyisihan dari Provinsi Jawa Tengah, PSS berhasil lolos babak ketiga dan berhasil melangkah ke putaran final babak empat besar Divisi II yang diselenggarakan di Tangerang. Sayangnya PSS harus mengakui Persewangi Banyuwangi dalam babak semifinal melalui adu penalti. Persewangi Banyuwangi, dan Persikota Tangerang pun lolos otomatis ke Divisi Satu Liga Indonesia, sedangkan PSS bersama Persipal Palu harus beradu dengan dua tim Divisi Satu Liga Indonesia dalam babak play off.
Dalam babak play off yang diadakan di Stadion Tridadi pada tanggal 4-9 Juli 1996, PSS sempat berada di ujung tanduk setelah tim Persiss Sorong menyerah 1-7 dari Persipal Palu, dan membuat PSS harus mengalahkan pimpinan klasemen Aceh Putra untuk berebut satu tiket tersisa. Kalah atau imbang, PSS harus merelakan Aceh Putra, dan Persipal Palu untuk berlaga di Divisi Satu Liga Indonesia. Lewat pertarungan ketat, PSS berhasil mengalahkan Aceh Putra dan meraih tiket promosi dengan pelatih Suwarno.
Selama berada di Divisi II PSS tidak pernah mendapatkan sumber pendanaan dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Tidak ada sponsor dari manapun, sumber pendanaan PSS pada waktu itu berasal dari kontribusi pribadi masyarakat Kabupaten Sleman yang gila bola. Rumah Sudarsono KH di Rogoyudan, Jalan Magelang berfungsi sebagai kantor PSS, di mana di tempat ini diadakan rapat dan berkumpulnya para pemain sepak bola menjelang dan sesudah pertandingan. Kemudian PSS mengikuti kompetisi Divisi Satu Liga Indonesia selama empat tahun mulai musim kompetisi 1996/1997 sampai musim kompetisi 1999/2000.
Aksi debutan PSS di Divisi Satu Liga Indonesia 1996/1997 cukup mencengangkan. Tim yang mengandalkan materi pemain hasil binaan sendiri tersebut berhasil lolos dari Grup Tengah III, mendampingi Persikabo Bogor ke babak sepuluh besar. Dalam babak sepuluh besar Grup A yang digelar di Stadion Mandala Krida, PSS harus puas di peringkat tiga dan gagal ke semifinal. Tahun 2000 adalah tahun berakhirnya masa jabatan Bupati Drs. H. Arifin Ilyas dan sebagai bupati ingin meninggalkan kesan yang terbaik, sehingga termotivasi kuat untuk mengantarkan PSS masuk Divisi Utama Liga Indonesia. Akhirnya, pada kompetisi tahun 1999/2000, dalam situasi krisis moneter PSS berhasil promosi ke Divisi Utama Liga Indonesia setelah PSS bersama-sama dengan Persita, Persikabo dan Persijap melakukan pertandingan empat besar di Stadion Tangerang dan PSS menjadi Juara II Kompetisi Divisi Satu Liga Indonesia, yang ditandai dengan kecemerlangan performa M. Eksan yang keluar sebagai top skor dengan 11 gol. Pertandingan empat besar tersebut berlangsung pada 26-30 Mei 2000. Dan sebagai Manager PSS adalah H. Sukidi Cakrasuwignya dengan pelatih Drs. Bambang Nurdjoko dan Drs. Herwin Sjahruddin.
Perjalanan PSS yang membanggakan itu bukan hal yang mudah. Meski lambat, perjalanan itu terlihat mantap dan meyakinkan. Sebelumnya, pada kompetisi tahun 1990-an, PSS masih berada di Divisi II. Tapi, secara perlahan PSS bergerak dengan mantap. Pada kompetisi tahun 1995/1996, tim ini berhasil masuk Divisi Satu Liga Indonesia, setelah melewati perjuangan berat di kompetisi-kompetisi sebelumnya. Dengan kata lain, PSS mengorbit di Divisi Utama Liga Indonesia bukan karena karbitan. Ia melewatinya dengan proses panjang.
Sempat dipandang sebelah mata, setelah bertanding di kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia, PSS bukanlah pendatang baru yang mudah dijadikan bulan-bulanan oleh tim-tim elit. Padahal, di Divisi Utama Liga Indonesia, PSS tetap menyertakan pemain produk kompetisi lokalnya. Mereka adalah M. Eksan, Slamet Riyadi, M. Ansori, Fajar Listiyantoro dan M. Muslih. Bahkan, M. Eksan, Slamet Riyadi dan M. Ansori merupakan pemain berpengaruh dalam tim.
Pada penampilan perdananya, PSS langsung mengagetkan insan sepak bola Indonesia. Di luar dugaan, PSS menundukkan tim elit bergelimang uang, Pelita Solo 2-1.
Bahkan, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwana X sendiri yang saat itu berada di Brunei Darussalam dalam rangka promosi wisata juga kaget. Kepada Bupati Kabupaten SlemanDrs. H. Ibnu Subiyanto, Akt yang mengikutinya, Sri Sultan Hamengkubuwana X mengatakan, "Ing atase cah Sleman sing ireng-ireng biso ngalahke Pelita." Artinya, anak-anak Kabupaten Sleman yang hitam-hitam itu (analog orang desa) kok bisa mengalahkan tim elit Pelita Solo.
Saat itu, Drs. H. Ibnu Subiyanto, Akt menjawab, "Biar hitam nggak apa-apa tho pak, karena bupatinya juga hitam." Ini sebuah gambaran betapa prestasi PSS memang mengagetkan. Bahkan, gubernur sendiri kaget oleh prestasi anak-anaknya. Akan lebih mengagetkan lagi, jika Sri Sultan Hamengkubuwana X tahu proses pertandingan itu. Sebelum menang, PSS sempat ketinggalan 0-1 lebih dulu. Hasil ini menunjukkan betapa permainan PSS memiliki kemampuan dan semangat tinggi, sehingga tak minder oleh tim elit dan tak putus asa hanya karena ketinggalan. Berikutnya, tim cukup tua Gelora Dewatamenjadi korbannya. Bahkan, di klasemen sementara, PSS sempat bertengger di urutan pertama.
Ketika tampil di kandang lawan, Malang United dan Barito Putra, PSS juga tak bermain cengeng. Bahkan, meski akhirnya kalah, PSS membuat tuan rumah selalu was-was. Sehingga, kekalahan itu tetap menjadi catatan mengesankan. Maka, tak heran debut PSS itu kemudian menjadi perhatian banyak orang. Hanya dalam sekejap, PSS sudah menjadi tim yang ditakuti, meski tanpa bintang.
Pembinaan sepak bola ala PSS ini akan lebih tahan banting. Sebab itu, terlalu berlebihan jika menilai PSS bakal numpang lewat di Divisi Utama Liga Indonesia. PSS dapat bertahan menghadapi persaingan keras Divisi Utama Liga Indonesia. Tim berjuluk Elang Jawa ini berhasil lolos dari jurang degradasi pada saat saat terakhir kompetisi.
Meski belum optimal, PSS akhirnya menuai hasil dari tradisi sepak bola mereka. Setidaknya, PSS sudah melahirkan pemain nasional Seto Nurdiantoro. Sebuah prestasi langka bagi Daerah Istimewa Yogyakarta. Terakhir, pemain nasional dari Daerah Istimewa Yogyakarta adalah kiper Siswadi Gancis. Itupun ia menjadi cadangan Hermansyah. Dengan memiliki tradisi sepak bola yang mantap dan mapan, tak menutup kemungkinan jika PSS akan memiliki kualitas sepak bola yang tinggi. Prestasi terbaik PSS diraih saat Divisi Utama Liga Indonesia digelar dengan sistem satu wilayah pada tahun 2003, dan 2004, finish dengan dua kali menempati posisi ke-4 secara berturut-turut. Sayangnya, melambungnya prestasi PSS juga ditandai dengan memudarnya semangat pembinaan, dan terbengkalainya kompetisi internal di Kabupaten Sleman. Problema antara tuntutan prestasi dan pembinaan menjadi tantangan terbesar bagi PSS agar keberadaannya mampu mencerminkan kualitas kompetisi sepak bola di Kabupaten Sleman.
Pada Divisi Utama Liga Indonesia 2011–12 (LPIS), PSS mulai mencoba bangkit dari keterpurukan. Meskipun hanya bermaterikan pemain-pemain muda, PSS mampu kembali bersaing dengan para kompetitor lainnya dan menjadi tim yang layak diperhitungkan. Musim berikutnya pada Liga Indonesia 2013, PSS membentuk tim yang kuat dengan persiapan yang matang. PSS pun berhasil lolos ke semifinal setelah dalam babak penyisihan tampil sebagai juara grup. Setelah penantian selama 13 tahun, PSS akhirnya kembali masuk final. Dalam babak semifinal, PSS menang dengan skor meyakinkan 3-0 atas Persitarapada 7 November 2013 di Stadion Maguwoharjo yang ditunjuk sebagai tuan rumah. Di final yang digelar pada 10 November 2013 bertepatan dengan Hari Pahlawan ini PSS berhadapan dengan Lampung FCyang sebelumnya mengalahkan Persenga Nganjuk dua gol tanpa balas. Partai puncak pun berlangsung ketat, laga ini harus berakhir imbang 1-1 dalam waktu normal setelah Lampung FC berhasil mencuri gol untuk menyamakan kedudukan. Lewat drama perpanjangan waktu, PSS akhirnya mampu menundukkan Lampung FC dengan skor 2-1. Dengan kemenangan tersebut PSS berhasil meraih gelar juara untuk pertama kalinya pada kompetisi profesional setelah 37 tahun berdiri. Sejak kiprahnya di Divisi Utama Liga Indonesia, PSS telah mengantarkan Seto Nurdiantoro, Anton Hermawan, Mauly Lessy, Anang Hadi, Fachrudin Aryanto, dan Juan Revi untuk mengenakan kostum Tim nasional sepak bola Indonesia.

Kontroversi

Pada pertandingan babak 8 besar Divisi Utama PSSI 2014, terjadi kehebohan pada laga terakhir Grup A yang mempertemukan tuan rumah PSS Sleman dengan tamunya PSIS Semarang. Kedua tim yang sama-sama sudah memastikan diri lolos ke babak semifinal memainkan "Sepakbola Gajah" karena tidak ingin menang untuk menghindari pertemuan melawan Runner Up Grup B yaitu Pusamania Borneo F.C.yang diduga telah dibekingi oleh Mafia wasit. Alhasil pada pertandingan yang diselenggarakan tanpa penonton di Stadion Akademi Angkatan Udara Yogyakarta berjalan dengan tidak sportif dan berakhir dengan terciptanya lima gol bunuh diri dengan kemenangan 3-2 untuk tuan rumah. Buntut dari kasus ini adalah dihukumnya Pelatih Heri Kiswanto, ofisial tim Rumadi, Sekretaris Tim Eri Febriyanto, dan tiga pemain yakni Riyana, Agus Setiawan, dan Hermawan Putra Jati dengan hukuman larangan berkecimpung di sepakbola seumur hidup. Selain itu kedua tim juga didiskualifikasi dari keikutsertaanya di kompetisi Divisi Utama 2014. Hingga saat ini, masih terjadi perdebatan mengenai dalang yang sebenarnya dari skandal "Sepakbola Gajah" tersebut.

Prestasi

Perserikatan

Liga Indonesia

Piala Indonesia

Piala Soeratin


REFERENSI :https://id.wikipedia.org/wiki/PSS_Sleman